Selasa, 07 Agustus 2012

I Have a DREAM



Kupandangi aktor yang sedang bermain perannya dengan baik dilayar laptop. Aku tak berhenti memandanginya. Yah wajahnya memang tampan, tapi yang kuperhatikan bukan hanya itu. Latar tempatnya, suasana, makanan dan semua yang ada difilm yang aku tonton itu sangat berbeda dengan suasana di tempat aku tinggal. Indonesia. Saat ini aku menonton film asia, Jepang lebih tepatnya. Entah apa yang merasuki tubuhku, tiba-tiba saja aku sangat ingin berada di sana. Di negeri yang terkenal dengan bunga Sakura itu.
“Ibu, aku pengen ke Jepang deh,” kataku spontan saat itu juga. Ibuku mengernyitkan keningnya.
“Buat apa?”
“Sekolah mungkin. Kalau liburan kan super mahal.”
“Jangan ngawur kamu. Sekolah diluar negeri itu mahal. Mana mampu bapakmu membiayai,” kata ibuku lalu meninggalkanku yang masih terpaku. Aku tertegun dengan kata-kata ibuku. Ibuku benar. Kulanjutkan menonton film detektif dilaptop yang sebelumnya ku pause.
Sejak saat itu aku terus memikirkan tentang keinginanku waktu itu. Aku benar-benar tak tahu mengapa aku begitu ingin ke sana. Bukan keinginan yang semata-mata hanya omongan seorang anak kecil yang banyak maunya. Aku serius dengan kata-kataku waktu itu.
“May, kok bengong?” sapa sahabatku, Nur, sambil mengguncangkanku pelan. Aku hanya nyengir khas diriku.
“Nur, aku kok pengen banget ke Jepang ya? Kemarin aku nonton film Jepang. Latarnya keren banget, terus aku tiba-tiba jadi kepengen banget.” Nur mengangguk-anggukan kepalanya. “Aku pengen ke sana buat sekolah. Bukan liburan atau kerja. Tapi aku tahu orang tuaku nggak mampu biayainya, haha,” lanjutku sambil tertawa getir.
“Kamu pengen sekolah ke sana?” aku mengangguk mantap. “Kemarin aku dikasih tahu kakakku, katanya ada beasiswa pemerintah Jepang gitu. Coba kamu buka diinternet segala persyaratannya ada disitu.”
Aku tersenyum senang mendengarnya. Lalu aku berterima kasih sambil memeluk sahabatku dengan erat. Ya, dia selalu memberikanku solusi yang sangat brilian.
            Segera setelah sampai di rumah aku browsing. Tak sulit untuk menemukan beasiswa yang dimaksud. Kubaca satu persatu segala persyaratannya. Sekilas tak sulit, tapi ketika aku mencoba mengerjakan soal-soal latihannya ternyata tak semudah yang kubayangkan. Tapi aku tak putus asa. Selama menanti saat pendaftaran tiba, aku harus mempersiapkan diriku sebaik-baiknya. Termasuk mempersiapkan segala persyaratan yang dibutuhkan dan tentunya restu dari orang tuaku. Diluar dugaanku, mereka mendukungku!!
            Keninginanku memang kuat, tetapi itu tidaklah cukup. Memang untuk mewujudkan keinginanku tidaklah mudah. Aku harus menghadapi rintangan yang cukup berat. Dimulai dari ketidaksetujuannya nenekku atas keinginanku yang dianggapnya hanyalah bualan semata, diremehkannya impianku oleh orang lain sampai pada puncaknya aku gagal pada tes beasiswa tersebut. Aku kecewa. Sangat kecewa. Kenapa ketika aku benar-benar serius untuk menggapai sesuatu aku gagal. Kenapa?!
            Ketika aku merasa terpuruk begini, hanya satu tempatku untuk bercerita, Nur. Aku tak mau orang tuaku tahu betapa kecewanya aku pada diriku sendiri.
            “Masih banyak kesempatan lain. Tahu kan berapa kali Alfa Edison percobaan buat menemukan bola lampu? He never give up. Tahu kan bagaimana Einstein dibilang gila gara-gara penemuannya? He never said he can’t. They always try, try and try. Mereka kan idolamu, jadi kamu tahu kan apa yang bisa kamu contoh dari mereka?” Nur mengatakan hal itu dengan mantap dan dengan senyumnya yang selalu menyejukkan. Aku mengangguk. Mereka memang idolaku. Aku menangis, bukan karena kecewa lagi sekarang. Tapi karena kata-kata Nur yang begitu menyejukkan. Semangatku yang luntur segera terkumpul. “Ingat, kejarlah cita-cita karena cita-cita nggak akan mengejarmu.”
            Sejak kegagalanku saat itu, aku terus bertekad untuk mencari beasiswa lain. Kali ini aku benar-benar fokus. Bahkan aku meminta pada Nur untuk mengingatkanku tatkala aku ingin berpacaran dan ketika semangatku luntur. Untungnya orang tuaku masih mendukungku sampai saat ini, itu membuatku semakin bersemangat. Saat di kampus aku rajin kepapan pengumuman. Aku tak mau ketinggalan info tentang beasiswa. Dan aku menemukannya sekarang. Yazrini Scholarship. Beasiswa yang sangat menarik. Aku mencermati segala persyaratannya. Kali ini aku tak mau gagal lagi. “Bismillah.”
            Rintangan terus berdatangan. Sama seperti ketika aku ingin mendapatkan beasiswa sebelumnya, aku mendapat cercaan, ketidaksetujuan dan apapun itu. walau begitu aku sudah bertekad, Allah selalu ada di dekatku. Aku pasti bisa!!
            Aku berhasil mendapatkan beasiswa itu. Beberapa minggu lagi aku akan berangkat dan aku sudah tak sabar menanti hari H. Aku sibuk mempersiapkan segala sesuatunya sampai aku tak menyadari bahwa ada satu rintangan lagi. Orang tuaku tak memiliki uang untuk sekedar membekaliku. Walaupun aku dibiayai 100 persen oleh perusahaan Yazrini, tapi biaya akomodasi menuju Jakarta ditanggung sendiri dan orang tuaku tak memiliki uang untuk membiayaiku.
            “Ini, uang beasiswa Yasau tahun ini buat May,” kakakku memberikan uang beasiswa yang baru saja ia terima padaku. Aku terkejut. Aku tahu benar bagaimana perjuangan kakakku untuk bisa mendapatkan beasiswa itu. Tak tega aku menerimanya. “Nggak apa-apa, uang ini lebih berguna untukmu walau tak seberapa jumlahnya,” kali ini kakakku mengelus kepalaku lembut. Aku menangis terharu, betapa hebatnya keluargaku ini. Hanya karena impianku yang mungkin dimata orang lain muluk-muluk itu mereka benar-benar mendukungku. Aku beruntung memiliki keluarga seperti mereka.
            Aku memandangi langit gelap yang penuh dengan bintang. Sesekali tampak bintang jatuh. Seharusnya aku memohon pada bintang apa yang kuinginkan. Tapi aku tak mau melakukan itu. Ketika aku memandangi langit seperti ini aku teringat pada keluargaku dan Nur. Buku-buku tebal yang tadi kubaca sudah kuabaikan.
            “May-san, sedang apa?” tanya seorang gadis berwajah oriental yang sangat cantik.
            “Ah, Saki-chan. Aku sedang memandangi bintang. Indah ya.” Saki-chan mengangguk.
            “Kalau di Tokyo pasti susah melihatnya, beda dengan di Nagoya. Oiya, kata ibu, makan malamnya sudah siap. Ayo!” ajaknya ramah. Aku mengangguk lalu mengikutinya.
            Ya, di sinilah aku berada saat ini, Nagoya. Salah satu kota di Jepang. Kalian tahu kan dimana aku berada dimana? Aku berhasil mewujudkan mimpiku. Sampai saat ini aku masih dan terus bermimpi. Mimpi adalah awal dari segalanya. Ketika kita memiliki mimpi, wujudkanlah. Tak peduli apa kata orang dan cercaan yang kau dapat. Ya, seperti kata Nur, kerjalah cita-citamu karena cita-cita tidak akan mengejarmu.

 -THE END-


Ini adalah cerpen pesanan ibuku dengan campuran antara kenyataan dan imajinasiku. Para pemeran di sini juga orang yang nyata. Aku harap memang bener-bener tercapai mimpiku. Aku harap para readers bisa memahami maksud dari cerpen singkatku ini :)

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Hey! Say! PINK. Template Design By: SkinCorner