Jdeeerrr…. Gemuruh guntur malam ini membuatku takut. Detakan jam dinding dan sepi membuat suasana menjadi seram. Aku melongok ke arah jam, sudah jam 23.15. Aku menarik selimut sampai menutupi wajahku.
Tok tok tok krieett. Pintu kamarku perlahan terbuka. Aku melongokkan kepalaku keluar selimut.
“Belum tidur Vi?” Tanya wanita separuh baya yang masuk ke kamarku itu.
“Belum tante,” jawabku singkat.
“Kalau gitu cepat tidur, besok kamu sekolah lho. Bajumu tante taruh sini ya,” kata Tante Marry meletakkan tumpukan baju di atas meja. Rupanya Tante Marry menyetrika baju sampai tengah malam. Lalu Tante Marry keluar dari kamarku.
Aku merasa segan kepada Tante Marry dan keluarganya. Tante Marry adalah adik dari ayahku yang sangat akrab dengan ibuku. Beliau dulu sempat tinggal di luar negeri, tapi sekarang beliau tinggal di Jakarta. Beliau tinggal berdua bersama dengan anak satu-satunya yang sebayaku, Chandra. Suami Tante Marry sudah meninggal 6 tahun lalu ketika Chandra masih berumur 11 tahun.
